Selasa, 03 November 2015

Bori Kalimbuang, Situs Megalith yang Unik



Toraja Goes To The World Cultural Heritage - Toraja Utara merupakan suatu kabupaten di Sulawesi selatatan yang memiliki segudang panorama indah serta objek wisata menarik yang dapat menjadi destinasi liburan yang berkesan bagi anda. Selain itu Toraja Utara memiliki budaya yang unik sehingga menarik perhatian para pelancong-pelancong lokal maupun mancanegara. Namun salah satu yang menjadi ciri khas dari Toraja yaitu budaya dan situs megalithnya. Contohnya salah satu situs megalith yang ada di Toraja yakni Bori Kalimbuang.

Bori Kalimbuang berlokasi di Jln. Poros Barana' - Pangli, Kelurahan Bori, Kecamatan Sesean, Kabupaten Toraja Utara. Masyarakat setempat mengenalnya dengan sebutan “Simbuang Batu”  atau “Simbuang Datu”, yang artinya adalah ‘batu yang ditarik’. Jarak objek wisata ini tak terlalu jauh dari kota yaitu sekitar 5 Km dari Kota Rantepao. Akses menuju situs megalith ini  pun tak susah karena anda dapat menggunakan kendaraan umum yang dapat anda temui di terminal Bolu, ataupun menyewa motor.

Megahnya ratusan batu menhir tersusun dengan ukuran yang beragam menghiasi situs ini seakan muncul dari bawah tanah dan menjulang tinggi. 24 batu tersebut berukuran besar, 24 batu lainnya berukuran sedang, dan sisanya berukuran kecil. Batu-batu tersebut mewakili  tokoh-tokoh bangsawan atau sesepu adat yang telah meninggal. Upacara adat yang di sebut ‘Rapasan Sapurandan’ di gelar sebagai bagian dari proses menanam sebuah pahatan batu. Proses pembentukan batu menhir ini sendiri melalui ritual-ritual panjang selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, dimana pertama-tama dilakukan pencarian serta pengamatan batu menhir yang diambil dari pegunungan atau bagian tebing yang memang banyak ditemukan di Toraja. Setelah diperoleh batu yang cocok kemudian dipahat untuk dibentuk seperti yang diinginkan, dan terakhir batu tersebut digulirkan dan ditarik serta ditanam sepertiga bagiannya dalam tanah di lokasi Bori. Ratusan warga setempat bersama bergotong royong dengan sukarela untuk menarik batu menhir tersebut menggunakan bantuan batang pohon, bambu, serta tali.



Meskipun ukuran dan ketinggian batu tersebut beragam, tak berarti melambangkan derajat atau status sosial orang yang meninggal tersebut lebih tinggi, namun keluarga dari seorang yang meninggal menetapkan seberapa besar atau tinggi batu tersebut akan di pahat. Namun banyak juga yang beranggapan bahwa semakin besar dan semakin tinggi batu menhir didirikan maka semakin tinggi pula derajat kebangsawanan dari warga atau tokoh masyarakat yang meninggal.

 Sejak ratusan tahun yang lalu, tradisi pembuatan batu menhir ini telah berlangsung. Berdasarkan catatan sejarah, dahulu kala daerah Bori dijadikan sebagai tempat lokasi upacara pemakaman untuk pertama kalinya pada tahun 1657. Saat itu 100 ekor kerbau dikorbankan untuk upacara kematian Ne’ Ramba yang adalah orang pertama dilangsungkannya upacara kematian di Bori. Upacara kematian yang kedua berlangsung pada tahun 1807, dimana sekitar 200 ekor kerbau dikorbankan dan 5 buah batu menhir dibuat untuk pemakaman Ne’ Padda’. Sementara batu menhir terbesar dan tertinggi di kawasan Bori ini didirikan tahun  1953, pada upacara pemakaman Ne’ Kase’ (Lai Datu). Sedangkan batu menhir  terakhir yang didirikan yaitu pada upacara pemakaman Ne’ Lai (Sa’Pang), pada tahun 1962.

Tak hanya batu-batu menhir nan megah yang menghiasi Bori, terdapat juga ‘Balakkayan’ yang adalah bangunan seperti rumah panggung yang berfungsi sebagai tempat membagikan daging  sembelian kerbau maupun babi yang dikorbankan dalam ritual yang dikenal dengan sebutan ‘Mantunu’. Di balakkayan inilah pemberi daging (To Mantawa) melakukan kegiatan penyerahan daging (Saroan), dan meneriakkan nama-nama para penerima daging dengan berurutan berdasarkan kelas sosial sesuai derajat atau tingkat sosial yang dimilikinya.
Selain itu ada juga Lakkian, tempat persemayan jenazah selama berlangsugnya upacara kematian. Lakkian terbuat dari kayu, bagian atasnya memiliki atap berbentuk perahu seperti atap rumah Tongkonan Toraja. Namun yang membedakan adalah ukuran Lakkian lebih kecil serta tidak berdinding seperti Tongkonan yang biasa dijumpai di Toraja. Meski ukurannya tak sebesar Tongkonan Toraja, bangunan ini memiliki 2 tingkat. Pada tingkat pertama digunakan sebagai tempat duduk bagi keluarga yang sedang berduka. Sedangkan pada tingkat kedua, digunakan untuk meletakkan jenazah anggota keluarga.






Lokasi yang juga menarik dan tak kalah unik di Bori ini yaitu kuburan bayi (Baby Graves). Sedangkan masyarakat setempat sendiri menyebutnya ‘Passilirian’ atau ‘Liang Pia’. Kuburan bayi ini sangat tak biasa karena jenazah bayi-bayi tersebut disemayamkan didalam batang pohon ‘Tarra’ yang telah dilubangi.Ya, memang kedengarannya menyeramkan, namun seperti objek wisata lainnya di Toraja, kuburan bayi ini layak untuk disaksikan dan tak boleh terlewatkan bila bertandang ke Toraja. Tak semua jenazah bayi yang meninggal dapat diletakkan di dalam pohon sejenis sukun ini. Hanya bayi yang belum tumbuh gigi dapat diletakkan di pohon tersebut.
Setelah jasad bayi dimasukkan di dalam batang pohon, barulah ditutup menggunakan ijuk serta pasak-pasak kayu. Lama-kelamaan lubang pohon tersebut tertutup dengan sendirinya dan bersatu dengan batang pohon. Lubang pohon itu mengarah pada rumah keluarga sang jasad bayi. Menurut kepercayaan warga setempat, konon katanya bila lubang tersebut menghadap pada rumah kediaman keluarganya, maka sang bayi dapat kembali ke tubuh ibu kandungnya. Adat ini telah dilakukan sejak dulu yang hingga kini masih terjaga dan terlestarikan.





Sungguh indah dan unik Toraja ini. Budaya, adat dan istiadat yang kaya menjadikan Toraja ini sebagai tanah surga yang menyimpan keindahan yang dapat disaksikan secara langsung oleh semua yang hendak bertandang menyaksikan anugerah yang Tuhan telah berikan kepada kita untuk dinikmati dan dijaga. Apalagi dengan ditetapkannya Bori Kalimbuang sebagai salah satu objek wisata warisan dunia oleh UNESCO di Toraja Utara, patutlah kita bersyukur. Marilah mengimplementasikan rasa syukur kita tersebut dengan terus menjaga agar semua aset berharga ini tak mudah sirna seiring berjalannya waktu dan moderenisasi.